Indah Namanya, Tapi...? (#5)
Indah Namanya, Tapi...? (#5)

Pukul lima kurang sepuluh menit, Pak Firman keluar dari ruangannya dan menghampiri meja Indah.
"Laporan sementara sudah siap?"
"Sudah, Pak. Saya kirimkan tadi."
Pak Firman membuka file di tabletnya. "Saya lihat ada perubahan jumlah pada pesanan pelanggan yang kemarin. Sudah dikonfirmasi?"
"Sudah, Pak. Konfirmasi tertulisnya masuk pagi ini."
"Bagus. Berarti tidak ada masalah."
Indah mengangguk.
Pak Firman membaca beberapa halaman lagi, lalu berhenti pada satu baris. "Ini kenapa nilai bersihnya sempat berbeda?"
"Rumusnya bergeser ketika ada penambahan baris, Pak. Sudah saya perbaiki."
"Siapa yang menemukan?"
Indah melirik ke arah meja Heru.
"Heru yang menemukan perbedaannya. Dia cukup teliti."
Pak Firman menoleh kepada Heru yang sedang merapikan dokumen.
"Bagus, Heru. Teruskan kebiasaan memeriksa angka seperti itu."
Heru tersenyum. "Baik, Pak."
"Kalau menemukan hal yang janggal, jangan ragu menyampaikan. Lebih baik kita periksa dua kali daripada harus menjelaskan kesalahan kepada pelanggan."
"Baik, Pak."
Pak Firman kembali ke ruangannya.
Heru menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya. Pujian itu sederhana, tetapi cukup membuatnya merasa bahwa pekerjaannya diperhatikan.
Ia kembali melirik ke arah Indah. Perempuan itu sedang memasukkan dokumen ke dalam folder. Wajahnya tampak biasa saja.
"Heru," panggil Indah.
"Iya, Mbak?"
"Besok bantu saya periksa laporan pelanggan yang lain, ya. Kalau kamu teliti seperti hari ini, pekerjaan saya bisa lebih ringan."
Heru mengangguk. "Tentu, Mbak."
Indah tersenyum.
"Bagus. Kita memang harus saling membantu."
Ia kemudian berjalan menuju ruangannya untuk mengambil tas.
Heru memandangi layar komputer yang mulai redup. Kalimat Indah terdengar wajar. Bahkan menyenangkan. Ia senang jika pekerjaannya berguna bagi orang lain, terlebih bagi seseorang yang selama dua hari terakhir telah banyak membantunya.
Ia tidak tahu bahwa kata saling membantu bisa memiliki arti yang berbeda bagi dua orang.
Bagi Heru, saling membantu berarti bekerja bersama, saling mengingatkan ketika ada kesalahan, dan berbagi tanggung jawab jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Bagi Indah, mungkin artinya tidak jauh berbeda. Hanya saja, ia belum terbiasa menerima bahwa bantuan yang ia berikan terkadang disertai harapan agar orang lain tidak terlalu banyak mempertanyakan caranya bekerja. Dan karena Indah telah begitu banyak membantunya, Heru mulai merasa bahwa ia seharusnya tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil.
Di situlah persoalan pertama mereka sebenarnya dimulai, bukan ketika angka diubah, bukan ketika rumus bergeser, dan bukan pula ketika Indah menyuruhnya berhenti bertanya.
Persoalan itu dimulai ketika Heru, tanpa sadar, mulai menganggap ketidaknyamanannya sendiri sebagai sesuatu yang harus ia koreksi.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, ia masih mengingat pujian Pak Firman. Ia juga mengingat bagaimana Indah membimbingnya sejak hari pertama.
Baca juga: Rasa Yang Telah Terbunuh
Ia memutuskan bahwa besok ia akan bekerja lebih baik, lebih teliti, tetapi tidak berlebihan, lebih berani bertanya, tetapi tahu batas., dan lebih bisa diandalkan.
Heru belum menyadari bahwa ia sedang membuat daftar panjang tentang bagaimana dirinya harus berubah, sementara ia belum pernah sekali pun meminta Indah mempertimbangkan hal yang sama.
Dan Indah?
Perempuan itu pulang dengan perasaan bahwa hari tersebut berjalan cukup baik. Laporan selesai, angka sudah cocok, Pak Firman tidak mempermasalahkan apa pun, dan pegawai barunya tampak semakin memahami ritme kerja.
Ia tidak merasa telah melakukan kesalahan besar. Ia hanya membuat keputusan berdasarkan pengalaman, lalu menjelaskan keputusannya kepada seseorang yang belum cukup lama bekerja untuk memahami semua pertimbangan di baliknya.
Jika ada sedikit ketidaknyamanan dalam percakapan mereka, Indah menganggapnya sebagai bagian wajar dari proses belajar.
Besok, pikirnya, Heru pasti sudah lebih mengerti.
Ia tidak tahu bahwa orang yang terus-menerus diminta untuk mengerti pada akhirnya bisa kehabisan ruang untuk memahami dirinya sendiri.
***
Pada hari ketiga bekerja, Heru menemukan bahwa ada dua jenis orang di kantor PT Ariana Niaga.
Jenis pertama adalah orang-orang yang datang pagi-pagi, membuka komputer, lalu bekerja seolah-olah dunia akan runtuh jika mereka terlambat membalas satu surel.
Jenis kedua adalah Adit.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, ketika sebagian besar pegawai sudah duduk di meja masing-masing, Adit baru muncul dengan rambut sedikit berantakan, kemeja putih yang bagian lengannya belum dilipat sama rata, dan wajah seseorang yang merasa telah melewati perjalanan panjang meskipun jarak rumahnya ke kantor hanya beberapa kilometer.
Heru meletakkan tas di kursi, mengeluarkan ponsel, lalu berdiri memandangi komputer dengan ekspresi muram.
"Tidak," gumamnya.
Heru menoleh. "Kenapa, Dit?"
Adit menunjuk layar komputernya.
"Dia lupa saya."
"Siapa?"
"Komputer ini. Kemarin saya sudah memasukkan kata sandi. Hari ini dia minta lagi. Hubungan kami tidak sehat."
Heru tertawa. "Masukkan kata sandinya saja."
"Sudah. Salah."
"Coba periksa Caps Lock."
Adit menatap keyboard. Lampu kecil di atas tombol Caps Lock menyala. Ia menekan tombol itu, mencoba kembali, lalu berhasil masuk.
Beberapa detik kemudian, ia menoleh kepada Heru dengan wajah serius. "Jangan ceritakan ini kepada siapa pun."
"Kenapa?"
"Reputasi saya dipertaruhkan."
"Reputasi sebagai apa?"
"Sebagai orang yang selalu menyalahkan teknologi ketika dirinya sendiri salah."
Heru tertawa lebih keras.
Adit mengangguk puas, seolah-olah berhasil membuktikan sesuatu yang penting. Ia kemudian duduk dan mulai membuka dokumen pekerjaan.
Baca juga: Apakah Memang Dia?
Heru memperhatikan laki-laki itu dengan senyum yang masih tertinggal di wajahnya. Ada sesuatu yang mudah disukai dari Adit. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain, setidaknya ketika sedang bercanda. Ia juga tidak membuat Heru merasa harus selalu menjaga sikap seperti saat berbicara dengan Pak Firman atau Indah.
Bersama Adit, Heru bisa menjadi pegawai baru yang belum tahu banyak hal tanpa merasa sedang mengikuti ujian.
"Ngomong-ngomong," kata Adit sambil menatap layar, "kamu sudah sarapan?"
"Sudah."
"Makan apa?"
"Roti."
Adit menggeleng kecewa.
"Sayang sekali."
"Kenapa?"
"Saya mau menawarkan diri sebagai teman sarapan. Kalau kamu belum makan, saya bisa menemani. Kalau kamu sudah makan, saya tetap bisa menemani, tetapi manfaatnya berkurang."
"Terima kasih atas penawarannya."
"Sama-sama. Lain kali, kalau mau menjadi teman saya, jangan mendahului jadwal makan."
Heru kembali tertawa.
Dari meja di seberang, Indah mengangkat wajah. "Pagi-pagi sudah berisik. Kalian sedang rapat penting?"
Adit langsung memutar kursinya. "Sedang membahas kesejahteraan pegawai, Mbak."
"Bagus. Kalau sudah selesai, tolong bahas juga kesejahteraan pelanggan. Mereka mulai mengeluh karena kamu terlalu lama membalas pesan."
"Pelanggan yang mana?"
"Yang kemarin mengirim tiga pesan dan kamu balas dengan stiker jempol."
"Itu bentuk komunikasi modern."
"Itu bentuk kemalasan yang diberi nama keren."
Heru tertawa, sementara Adit mengangkat kedua tangan menyerah. Indah tersenyum puas, lalu kembali mengetik.
Pagi itu terasa menyenangkan. Pekerjaan mulai berjalan, suasana kantor hidup, dan Heru tidak lagi merasa seperti orang asing yang tersesat di tengah sekumpulan meja kerja.
Ia mulai hafal letak printer, tahu siapa yang biasanya membuat kopi paling pahit, dan mengerti bahwa Adit akan selalu punya komentar untuk hampir segala hal. Namun, yang belum ia pahami adalah bahwa di kantor itu, kemampuan membuat orang tertawa kadang-kadang bisa menjadi cara paling mudah untuk menghindari percakapan yang seharusnya dilakukan dengan serius.
Menjelang pukul sepuluh, Pak Firman mengirimkan permintaan agar setiap staf pemasaran memperbarui status pelanggan masing-masing sebelum rapat sore.
Heru membuka daftar pelanggan yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagian besar masih dalam tahap pengenalan karena ia baru bergabung. Ia perlu membaca catatan sebelumnya, memahami kebutuhan pelanggan, lalu menghubungi beberapa orang untuk memastikan apakah ada perkembangan terbaru.
Indah sempat datang ke mejanya untuk menjelaskan format laporan. "Jangan terlalu panjang menulis catatan," katanya. "Pak Firman tidak perlu membaca novel untuk mengetahui pelanggan mana yang belum membayar."
Heru tersenyum. "Baik, Mbak."
"Cukup tulis masalahnya, tindakan yang sudah dilakukan, dan langkah berikutnya. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan. Jangan mengarang."
"Siap."
Baca juga: Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?
Indah menatapnya sebentar. "Wah, sekarang sudah pakai kata siap. Besok-besok mungkin kamu datang dengan seragam militer."
Adit menyahut dari mejanya, "Kalau Heru jadi tentara, saya mau jadi komandannya."
Indah mendengus. "Kamu? Jadi komandan?"
"Kenapa tidak?"
"Pasukanmu baru disuruh baris saja sudah bubar karena kamu lupa memberi tahu mereka harus menghadap ke mana."
Adit memegang dada seolah-olah tertembak.
Heru tertawa, dan Indah ikut tertawa sebelum kembali ke mejanya.
Tidak lama kemudian, Adit berdiri dan berjalan ke arah Heru. "Her, bantu saya sebentar."
"Ada apa?"
Adit menunjukkan layar komputernya. Ia sedang membuat laporan status pelanggan, tetapi beberapa kolom terlihat tidak sejajar.
"Menurut kamu, lebih bagus yang ini atau yang ini?"
Heru memperhatikan kedua tampilan. "Yang kedua. Lebih mudah dibaca."
"Betul. Saya juga berpikir begitu."
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"
Adit mengangguk seolah-olah pertanyaan itu sangat masuk akal. "Saya perlu saksi."
"Untuk apa?"
"Kalau nanti dikritik Indah, saya bisa bilang keputusan ini dibuat melalui diskusi profesional."
Heru menggeleng sambil tersenyum.
Mereka lalu membicarakan pekerjaan masing-masing. Adit bercerita bahwa ia sebenarnya tidak pernah bercita-cita bekerja di bidang pemasaran. Setelah lulus kuliah, ia sempat mencoba beberapa pekerjaan sebelum akhirnya menerima tawaran di PT Ariana Niaga.
"Awalnya saya pikir pekerjaan pemasaran itu cuma menawarkan barang," katanya. "Ternyata kita juga harus menawarkan kesabaran, mengelola kekecewaan, dan sesekali pura-pura tidak mendengar pelanggan yang mengatakan harga kita terlalu mahal."
"Kalau begitu, kamu sudah berpengalaman."
"Benar. Pengalaman saya sangat luas." Adit berhenti sejenak. "Sayangnya, gaji saya belum ikut luas."
Heru tertawa. "Kamu sudah berapa lama di sini?"
"Hampir tiga tahun."
"Berarti kamu tahu banyak tentang kantor ini."
"Lumayan."
Adit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja.
"Kalau ada yang mau kamu tanyakan, tanya saja. Saya bisa menjelaskan banyak hal."
"Misalnya?"
"Mesin kopi yang paling bagus, warung makan yang porsinya paling besar, siapa yang suka meminjam pulpen tetapi tidak pernah mengembalikan, dan siapa yang harus kamu hindari kalau sedang tidak ingin pusing."
Heru tersenyum. "Siapa?"
Adit menunjuk Indah dengan dagunya. "Yang itu."
Seolah mendengar namanya, Indah menoleh. "Saya dengar."
Adit segera meluruskan badan. "Saya sedang memuji Mbak."
"Bagus. Lanjutkan."
"Saya bilang, kalau sedang tidak ingin pusing, kita harus meminta saran kepada Mbak karena Mbak selalu punya jawaban."
Baca juga: Indah Atau Winda, Atau...?
Indah tersenyum lebar. "Nah, begitu. Kamu masih bisa diselamatkan."
Indah kembali bekerja tanpa bertanya lebih jauh.
Heru menatap Adit, yang mengembuskan napas lega.
"Kamu benar-benar takut sama Mbak Indah?" tanya Heru pelan.
Adit menggeleng. "Bukan takut. Saya menghormati senior."
"Kelihatannya tadi kamu panik."
"Itu bentuk penghormatan tingkat lanjut."
Heru tertawa lagi.
Adit memang selalu punya jawaban. Bahkan ketika ketahuan sedang menghindari sesuatu, ia bisa mengubahnya menjadi lelucon sebelum orang lain sempat bertanya lebih jauh.
Saat itu Heru menganggapnya sebagai kelebihan.
Ia belum tahu bahwa ada kalanya seseorang bercanda bukan karena tidak menganggap persoalan itu serius, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya tanpa membuat hidupnya sendiri menjadi lebih sulit.
***
Pada pukul sebelas lewat tiga puluh, Heru sedang menyusun catatan pelanggan ketika Dimas, seorang intern yang baru dua minggu bergabung, menghampiri meja Indah.
Deni masih terlihat seperti mahasiswa yang baru selesai mengikuti kelas pagi. Kemejanya rapi, rambutnya disisir dengan hati-hati, dan ia membawa buku catatan kecil yang penuh tulisan.
"Mbak Indah, boleh tanya?"
Indah tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Boleh."
"Kalau pelanggan belum membalas penawaran, sebaiknya saya menghubungi lagi hari ini atau menunggu besok?"
"Pelanggan yang mana?"
Deni menyebutkan nama pelanggan dan menjelaskan kapan ia mengirimkan penawaran.
Indah mengangguk. "Kalau baru kemarin sore, tunggu sampai besok pagi. Jangan membuat pelanggan merasa dikejar-kejar. Tapi kalau sudah lewat dua hari kerja, kamu boleh menghubungi lagi dengan pesan singkat."
Deni mencatat dengan cepat. "Baik, Mbak."
"Dan jangan menulis, ‘Mohon segera ditanggapi.’ Kamu bukan debt collector."
Deni tersenyum gugup. "Iya, Mbak."
"Pakai bahasa yang sopan. Tanyakan apakah mereka sudah sempat meninjau penawaran, lalu tawarkan bantuan kalau ada yang ingin diklarifikasi."
"Siap, Mbak."
Indah akhirnya menoleh. "Kenapa semua orang di kantor ini suka sekali bilang siap?"
Adit mengangkat tangan dari mejanya. "Karena kata ‘siap’ lebih murah daripada kena marah, Mbak."
Tawa terdengar dari beberapa meja.
Deni ikut tertawa, meskipun tidak sekeras yang lain.
Indah menunjuknya. "Nah, kamu jangan ikut-ikutan Adit. Kalau semua yang dia katakan kamu tiru, nanti kamu punya kebiasaan buruk sebelum punya pengalaman kerja."
Adit menatap langit-langit. "Saya selalu menjadi korban pendidikan."
Deni tersenyum lebih lebar.
Heru memperhatikan percakapan itu sambil terus bekerja. Indah memang bisa mengajari orang dengan baik. Ia tidak sekadar memberikan jawaban, tetapi juga menjelaskan alasan di baliknya. Deni terlihat antusias, bahkan beberapa kali mengangguk seolah-olah setiap kalimat Indah adalah sesuatu yang perlu dicatat.
Baca juga: Jeda Setelah Luka
Setelah selesai, Deni kembali ke mejanya.
Beberapa menit kemudian, Heru mendengar suara Indah memanggilnya.
"Heru, coba ke sini sebentar."
Heru berdiri dan menghampiri. Indah membuka sebuah dokumen di layar.
"Kamu tadi membuat ringkasan status pelanggan, kan?"
"Iya, Mbak."
"Bagaimana kamu menulis pelanggan yang belum membalas penawaran?"
Heru menjelaskan format yang digunakannya.
Indah mengangguk. "Bagus. Coba bantu Dimas juga nanti. Dia masih belajar."
"Baik, Mbak."
"Jangan terlalu kaku. Anak magang itu kadang lebih takut bertanya daripada melakukan kesalahan. Kalau dia bingung, arahkan saja."
Heru tersenyum. "Saya juga masih banyak belajar, Mbak."
"Makanya kalian bisa belajar bersama."
Indah kembali menatap layar, lalu menambahkan dengan nada bercanda, "Siapa tahu kamu bisa menurunkan sedikit kebiasaan bertanya terlalu banyak kepadanya."
Heru tertawa kecil. Namun, setelah ia kembali ke mejanya, ia menyadari bahwa kalimat itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Bukan karena Indah mengkritiknya. Ia tahu dirinya memang sering bertanya. Tetapi ia juga ingat pesan Pak Firman: jika menemukan hal yang janggal, jangan ragu menyampaikan. Ia belum menemukan cara untuk menjadi teliti tanpa dianggap terlalu banyak bertanya. Dan ia tidak ingin terlihat seperti pegawai baru yang mudah tersinggung hanya karena sebuah lelucon. Maka, seperti yang mulai biasa ia lakukan, Heru memilih tidak mengatakan apa-apa.
***
Waktu makan siang tiba tanpa terasa.
Adit mengajak Heru ke warung makan yang sama seperti kemarin. Kali ini Nani ikut bergabung setelah berhasil menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya.
"Wah, akhirnya kamu keluar juga," kata Adit ketika Nani datang membawa tas kecil.
Nani menarik kursi. "Kalau aku terus duduk di depan komputer, nanti kursinya menganggap aku bagian dari inventaris kantor."
"Bagus. Berarti kamu bisa diajukan untuk pengadaan tahun depan," kata Adit.
Nani tertawa.
Heru memperhatikan Nani yang hari itu tampak lebih santai. Kacamata berbingkai tipisnya sedikit melorot ketika ia membaca menu, dan ia berkali-kali merapikannya dengan ujung jari.
"Kamu sudah pesan?" tanya Nani kepada Heru.
"Belum."
"Coba ayam bakarnya. Sambalnya enak."
"Pedas?"
"Lumayan."
Adit mengangkat telunjuk. "Definisi pedas menurut Nani perlu diperiksa secara ilmiah. Dia pernah bilang sambal ini tidak terlalu pedas, lalu minum tiga gelas air."
"Itu karena kamu menaruh sambal terlalu banyak di piringku," balas Nani.
"Karena saya ingin berbagi kebahagiaan."
"Kamu ingin melihat orang menderita."
"Kadang-kadang keduanya bisa berjalan beriringan."
Heru tertawa.
Baca juga: Misteri Di Balik Senja
Mereka memesan makanan, lalu berbicara tentang hal-hal di luar kantor. Adit bercerita bahwa ia sedang mencoba menghemat uang, tetapi selalu gagal setiap kali melewati kedai kopi. Nani mengaku sedang belajar memasak beberapa menu sederhana karena ia lelah membeli makan malam setiap hari.
Heru sendiri bercerita sedikit tentang Cirebon, tentang rumah orang tuanya, dan tentang kebiasaannya membantu ayahnya memperbaiki barang-barang di rumah.
"Berarti kamu cukup telaten," kata Nani.
"Kalau memperbaiki barang, saya suka. Kalau memperbaiki diri sendiri, belum tentu berhasil."
Adit menunjuk Heru dengan sendok. "Wah, bagus. Catat itu. Kalimat seperti ini bisa dipakai kalau suatu hari kamu ingin terlihat bijaksana di media sosial."
Nani tertawa. "Tidak semua hal harus dijadikan unggahan, Dit."
"Kalau tidak diunggah, bagaimana orang tahu kita sedang mengalami perkembangan karakter?"
Heru menggeleng.
Di tengah percakapan, Nani bertanya kepada Heru bagaimana ia menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru.
"Sejauh ini baik," jawab Heru. "Masih banyak yang harus dipelajari."
"Kalau ada yang belum jelas, tanya saja. Daripada salah."
Heru terdiam sebentar.
Adit meliriknya. "Kenapa? Ada yang belum jelas?"
"Tidak. Saya cuma sedang mengingat sesuatu."
Nani menatapnya, tetapi tidak mendesak.
Adit kemudian mengubah topik pembicaraan ke soal harga makanan yang terus naik. Percakapan kembali ringan, dan Heru tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
Namun, ketika mereka selesai makan dan hendak kembali ke kantor, Nani berjalan sedikit lebih lambat bersama Heru.
"Kadang-kadang, orang yang baru masuk kerja merasa harus membuktikan dirinya dengan cepat," kata Nani.
Heru menoleh. "Kamu juga begitu?"
Nani tersenyum kecil. "Dulu. Saya pikir kalau saya selalu bisa membantu orang, semua orang akan senang bekerja dengan saya."
"Sekarang?"
"Sekarang saya tahu bahwa orang bisa senang dibantu tanpa pernah memikirkan apakah kita sedang punya waktu untuk membantu."
Ia mengucapkannya tanpa nada mengeluh. Hanya sebuah pengamatan yang sudah cukup lama ia simpan.
Heru teringat permintaan Indah kepadanya pagi tadi untuk membantu Deni. Ia tidak keberatan melakukannya, tetapi tiba-tiba ia mengerti bahwa bantuan bisa terasa berbeda ketika diberikan secara sukarela dan ketika perlahan-lahan dianggap sebagai kewajiban.
"Lalu bagaimana cara membedakannya?" tanya Heru.
Nani berpikir sejenak. "Belum selalu tahu. Saya juga masih belajar."
Mereka sampai di pintu gedung.
Nani tersenyum kepadanya sebelum berjalan menuju lift.
Heru memandangi punggungnya sebentar. Ada sesuatu yang terasa akrab dari cara Nani berbicara: tidak menggurui, tidak berpura-pura memiliki jawaban, dan tidak membuat pertanyaannya terasa seperti kesalahan.
Untuk pertama kalinya, Heru merasa mungkin ia bisa belajar banyak hal dari orang-orang yang tidak selalu berbicara paling keras di kantor.
Bersambung
Terima kasih telah membaca Indah Namanya, Tapi...? (#5). Kisah ini merupakan cerita bersambung dengan genre: romance dan comedy seperti novel Metropop yang mengangkat tema potongan kehidupan (slice of life) penuh dengan drama romantis. Jika kamu menyukainya, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Bukan Cinta Yang Sama
Komentar
Posting Komentar