Debat Kusir Jumat Berkah
Debat Kusir Jumat Berkah

Jarum jam di dinding ruang divisi marketing baru saja menunjuk pukul 10.45 WIB. Suasana di dalam ruangan ber-AC sentral itu tampak sibuk. Suara ketukan keyboard dari laptop dan suara printer berpadu dengan dengung halus pendingin ruangan.
Hermansyah menghela napas pelan sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa agak kaku. Sejak absensi masuk pukul 08.00 pagi tadi, Hermansyah langsung berkutat tanpa jeda dengan draf laporan bulanan yang menyita konsentrasinya. Kini, setelah laporan itu tuntas dikirim ke email manajer, ia merasa berhak mengambil jeda sejenak.
Tangannya secara otomatis merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar berlayar sentuh. Ibu jarinya bergerak lincah membuka kunci layar, lalu mengetuk ikon aplikasi hijau berlogo gagang telepon. Tanpa sadar, matanya beralih ke tab Status. Ada puluhan lingkaran kecil hijau yang menunjukkan status baru dari kontak-kontaknya. Jari Hermansyah menggulir layar ke bawah hingga matanya berhenti pada satu nama: Yuli.
Yuli adalah rekan kerja satu divisi yang mejanya berada di sudut seberang ruangan hanya terhalang sekat partisi setinggi dada.
Di layar ponsel Hermansyah, tertera sebuah unggahan foto beresolusi tinggi. Sebuah piring putih di atas meja restoran menyajikan hidangan udang saus padang dan ikan gurame asam manis yang tampak menggugah selera. Di bawah foto itu, tersemat tulisan berlatar warna hitam:
Alhamdulillah. Jumat berkah.
Hermansyah mengerjap-ngerjap sekilas. Alis kirinya sedikit terangkat. Ada sesuatu dari pemilihan frasa itu yang menggelitik naluri kritisnya. Sebagai orang yang cukup gemar memperdebatkan hal-hal kecil secara logis, kata "Jumat berkah" yang disematkan begitu saja pada momen ditraktir makan selalu menyisakan tanya di benaknya.
Tanpa berpikir dua kali, ibu jari Hermansyah dengan cepat dan sigap mengetik kalimat untuk mengomentari status Yuli tersebut:
"Kenapa jumat berkah? Apakah hari yang lain tidak berkah?"
Hermansyah mengetuk tombol kirim dengan gerakan mantap. Pesan itu meluncur mulus. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kantor yang empuk, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, menunggu bagaimana respons dari Yuli yang mejanya hanya berjarak beberapa meter darinya.
Di sudut ruangan divisi marketing, layar ponsel Yuli menyala terang di atas meja kerja. Sebuah getaran singkat berhasil mengalihkan perhatian wanita itu dari lembar spreadsheet excel yang sedang ia kerjakan. Yuli meraih ponselnya, membuka kunci layar, dan melihat notifikasi pesan masuk berupa balasan dari status WhatsApp miliknya.
Nama Hermansyah tertera di sana.
Yuli membaca kalimat singkat itu: "Kenapa jumat berkah? Apakah hari yang lain tidak berkah?"
Alis Yuli langsung berkerut. Senyum tipis yang tadinya masih menghiasi bibirnya dari kenikmatan udang saus padang di restoran tadi mendadak lenyap. Jari-jarinya dengan cepat menari di atas papan ketik virtual, membalas pesan tersebut dengan nada sedikit membela diri dan gestur kepala yang menengok sekilas ke arah sekat kubikal Hermansyah meski terhalang partisi.
"Bukan hari lain tidak berkah, saya menunjukkan syukur saya kepada Allah SWT karena ada keberkahan di hari ini. Saya ditraktir makan... hahaha, itu sama saja keberkahan kan?" jawab Yuli cepat, menunjukkan sedikit kekesalan bercampur geli atas keusilan rekan kerjanya itu.
Di kubikalnya, Hermansyah merasakan ponselnya bergetar di telapak tangan. Ia membaca balasan Yuli. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil.
Bagi Hermansyah, jawaban itu justru menyimpan kerancuan logika. Baginya, melabeli hari tertentu sebagai "berkah" hanya karena momen ditraktir bisa mengaburkan esensi bahwa semua hari semestinya penuh berkah. Ia pun meluncurkan argumen tandingannya:
Baca juga: Kita Dalam Sebuah Cerita
"Nah, itu justru yang bikin rancu. Istilah 'Jumat Berkah' itu sering disalahpahami seolah hari lain nggak ada berkahnya. Padahal kalau konteksnya cuma karena ditraktir, ya cukup dibilang 'Alhamdulillah rezeki anak solehah' aja... hihihi, nggak harus bawa-bawa label hari Jumat. Benar kan?"
Perdebatan kecil ini mulai menghangat, tetapi tetap dibalut kepala dingin. Yuli menanggapi dengan mengembalikan pada pemahaman masing-masing pembaca serta tradisi yang biasa hidup di masyarakat.
"Sebenarnya sih yang bikin rancu tergantung si pembaca dan pemahaman si pembaca. Kalau yang sudah paham sih keberkahan memang setiap harinya," balas Yuli. "Masyarakat biasanya menjadi kebiasaan dan tradisi. Bilangnya Jumat berkah. Untuk yang sudah paham ya Alhamdulillah keberkahan juga."
Hermansyah yang hobi melontarkan candaan pancingan tak mau kalah. Ia menyeret Yuli ke dalam skenario hipotesis yang menggelitik:
"Jadi saya nih yang salah... hihihi... Karena kurang paham... hihihi. Kalau begitu besok kalau ditraktir hari Rabu, bikin status 'Rabu Berkah' juga ya biar konsisten sama tradisi masyarakat... gimana setuju?"
Mendapat tantangan itu, tawa Yuli pecah di balik layar ponselnya. Ia memberikan balasan telak yang cerdas namun jenaka:
"Saya tidak bilang kamu salah, Hermansyah," balas Yuli. "Dan di situ juga tidak saya sebutkan nama kamu kan ? Kan bukan kamu saja yang membaca status saya, banyak...fans saya. Seperti saya bilang tadi, kalau semua rahmat itu dari Allah di hari apapun berkah, Hermansyah. Berarti kamu mau traktir hari Rabu ? Jadi Rabu berkah ? Siapa yang mau traktir hari Rabu? Ya boleh aja saya bilang berkah atau rezeki nomplok rezeki wanita solehah bebas dong.. kan saya yang buat status, kenapa harus konsisten... hahaha"
Balasan itu membuat Hermansyah tersenyum sendiri. Meski begitu, ia masih mencoba melempar satu pukulan terakhir untuk menggoda Yuli.
"Oh jadi kalau nggak ada yang traktir, nggak ada 'Rabu Berkah' ya? Berarti kesimpulannya bukan 'Jumat Berkah', tapi 'Jumat Ditraktir'... hihihi"
Hermansyah terkekeh pelan di balik kubikalnya. Ia sengaja membubuhkan emotikon tawa kecil di akhir kalimat agar pesannya tidak terlihat seperti sedang mengajak berkelahi, melainkan sebuah ledekan ringan antarteman kantor.
Di seberang sana, Yuli membaca balasan tersebut. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, merasa gemas dengan sisi kritis Hermansyah yang terkadang menyebalkan sekaligus ada benarnya juga. Namun, ia tidak mau kalah begitu saja dalam perdebatan logika receh ini. Yuli mengetik balasannya dengan gaya yang lebih santai dan defensif:
"Bebas buat si pembaca apapun itu, saya tidak bisa melihat isi kepalanya. Dan tidak bisa melihat isi hatinya mau berkata apa... hahaha."
Hermansyah membaca kalimat terakhir itu. Pesan penutup yang cerdas dan aman dari Yuli, melempar balik pemaknaan ke tangan pembaca tanpa harus mengaku salah atau benar. Hermansyah menatap layar ponselnya sesaat, merenungkan kalimat itu, lalu jempolnya mengetik kalimat penutup yang elegan dan mencairkan suasana:
“Oke, terima kasih atas perdebatan kecilnya.”
Hermansyah mengunci layar ponselnya, meletakkannya di atas meja kerja, lalu kembali menatap layar monitor komputer. Perdebatan kecil via WhatsApp itu resmi selesai. Namun, kepala Hermansyah masih dipenuhi rasa geli, menyisakan senyum kecil yang tersungging di bibirnya sepanjang sisa jam kerja menjelang istirahat siang.
Pukul 12.00 WIB tepat, jam istirahat. Para karyawan berhamburan keluar dari kubikal masing-masing, merenggangkan otot, dan bersiap memburu makanan pengisi perut.
Di sudut ruangan divisi marketing, Hermansyah, Rudi, dan Winda berjalan berdampingan menuju kantin yang terletak di lantai dasar gedung. Sementara itu, Yuli bersama dua rekan dari divisi lain sudah lebih dulu duduk di salah satu meja bundar pojok ruangan kantin yang bernuansa kayu terang.
Baca juga: Sebelum Ia Menyadari
"Wah, hari ini kantin agak lumayan sepi antreannya. Berkah banget kita turun pas jam duabelas pas," celetuk Winda sambil merapikan tas selempangnya begitu mereka sampai di area kantin. Winda berambut sebahu, terkenal paling rasional dan hobi menengahi perdebatan tidak penting di antara rekan-rekan sekantornya.
"Berkah apanya, Win. Ini namanya ketepatan waktu, bukan berkah," sahut Hermansyah cepat sambil terkekeh kecil, menyindir frasa kata 'berkah' yang sejak pagi tadi menggelitik kepalanya.
Rudi, yang berjalan di sebelah Hermansyah dengan gaya santai, langsung melirik penuh selidik. Sudut bibirnya naik sebelah. "Eh, tunggu-tunggu. Kenapa muka lu senyum-senyum sendiri dari tadi di kubikal, Man? Jangan-jangan habis nge-chat si Yuli ya? Ketawa-ketawa sendiri kayak orang kesurupan."
Hermansyah tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Rudi ringan. "Tau aja lu, Rud. Emang mata detektif."
"Tuh kan! Bener tebakan gue," kata Rudi bersorak kecil dengan nada usil, lalu mempercepat langkahnya menghampiri meja tempat Yuli dan teman-temannya sudah duduk memesan makanan. "Wih, ibu haji di WA! Lagi ngebahas apaan nih sampai bikin anak orang senyum-senyum sendiri di kubikal?"
Yuli yang sedang mengaduk mi ayamnya langsung mendongak. Ia mendengus pelan sambil melirik ke arah Hermansyah yang baru saja ikut duduk di meja yang sama, ditemani oleh Winda dan Rudi.
"Tuh, tanya sendiri sama teman lu yang kurang kerjaan itu, Rud," jawab Yuli dengan nada bercanda, setengah mendengus pura-pura kesal. "Pagi-pagi orang lagi tenang, eh dia malah datang bawa-bawa argumen logika filsafat. Ribet banget hidupnya."
Winda yang duduk di samping Hermansyah tertawa kecil sambil membuka bungkus kerupuk putih. "Emang Hermansyah ngomong apa, Yul? Palingan juga dia nyerocos soal tata bahasa lagi."
"Dia protes, Win! Katanya kenapa status gue 'Jumat berkah'. Dibilang kalau nggak ada yang traktir, nanti nggak ada 'Rabu Berkah'," cerita Yuli sambil tertawa renyah, meski matanya melirik tajam ke arah Hermansyah yang kini sedang memesan es teh manis pada pelayan kantin.
Rudi langsung terbahak keras, menepuk meja kantin sampai piring di depannya bergetar. "Anjrit! Ide bagus tuh! Man, lu benar juga ya. Berarti besok-besok kalau gue traktir si Winda hari Selasa, harus dibikin status 'Selasa Berkah' dong?"
"Nah, itu dia poinnya!" ucap Hermansyah, menunjuk Rudi seolah-olah Rudi baru saja memecahkan teori fisika kuantum. "Istilah keagamaan itu jangan diobral cuma karena masalah urusan perut atau traktiran. Kalau apa-apa dibilang berkah gara-gara gratisan, nanti makna hakiki keberkahannya jadi luntur."
Yuli menggelengkan kepala, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kantin sambil melipat tangan di dada. "Dengerin tuh, pakar bahasa kita lagi ceramah. Masalahnya, Hermansyah yang terhormat, di status WhatsApp itu hak orang mau nulis apa. Nggak ada undang-undang yang ngatur kalau kata 'berkah' cuma boleh dipakai untuk hal-hal sakral doang."
Winda tersenyum bijak, menggigit kerupuknya lalu ikut nimbrung. "Kalau menurut gue sih, dua-duanya ada benernya ya. Hermansyah bener secara struktur logika dan bahasa supaya kita nggak asal pakai istilah. Tapi Yuli juga bener, karena di medsos orang bebas berekspresi mengekspresikan rasa syukurnya, walau pemicunya cuma semangkuk mi ayam atau ikan gurame gratisan."
"Nah! Dengerin kata Winda, penengah yang bijaksana," puji Yuli sambil menunjuk Winda dengan garpunya.
"Padahal dia sendiri yang nutup debat pakai istilah 'Jumat Ditraktir', terus langsung bilang terima kasih atas perdebatan kecilnya supaya kelihatan elegan," tambah Yuli sambil tertawa mengejek ke arah Hermansyah.
Baca juga: Pada Akhirnya, Akankah Luka Berakhir?
Hermansyah ikut tersenyum lebar, tidak merasa tersaingi sama sekali. Ia mengambil gelas es teh manis yang baru diantar pelayan kantin, menyeruputnya sedikit, lalu berkata dengan santai, "Ya dong, harus elegan. Menang argumen itu nggak harus ribut, yang penting pihak sebelah mati kutu tapi tetap senyum-senyum."
Rudi tertawa ngakak lagi, merangkul bahu Hermansyah. "Kampret emang lu, Man. Tapi seru juga ya, gara-gara status makanan doang, siang-siang kita jadi dapat bahan obrolan renyah begini."
Suasana meja makan itu pun mendadak riuh oleh gelak tawa keempat rekan kerja tersebut, meleburkan perdebatan teoretis pagi tadi menjadi kebersamaan yang hangat di sela-sela jam istirahat kantor.
Pukul 16.45 WIB. Matahari sore mulai condong ke barat, memantulkan cahaya jingga kemerahan yang menembus jendela kaca besar di lantai dua. Suasana kantor berangsur-angsur tenang. Sebagian besar karyawan sudah mulai merapikan meja kerja, mematikan unit komputer, dan bersiap menyambut akhir pekan yang tinggal menghitung jam.
Di sudut kubikalnya, Hermansyah meregangkan kedua tangannya ke atas hingga sendi-sendi tulangnya berbunyi krik. Laporan mingguan terakhir telah diunggah ke server pusat. Tugas kantor hari Jumat ini resmi tuntas tanpa ada catatan merah dari atasan.
Pandangan Hermansyah terarah sejenak ke meja seberang. Kursi Yuli sudah kosong. Rupanya wanita itu sudah berpamitan lebih dulu untuk mengejar absen sore bersama rekan divisi lain.
Hermansyah tersenyum tipis di balik meja kerjanya. Kejadian pagi tadi, berawal dari secarik status foto makanan berlabel "Jumat berkah" yang berujung pada perdebatan filosofis receh soal bahasa terasa menggelitik jika dipikir kembali. Di era digital seperti sekarang, media sosial memang kerap menjadi panggung kecil tempat orang-orang menumpahkan ekspresi, rasa syukur, atau sekadar pamer piring makan siang, yang kemudian disambut dengan beragam respons tak terduga.
Langkah kaki ringan mendekati kubikal Hermansyah. Winda muncul dari arah pantry sambil membawa mug berisi sisa air hangat, ditemani oleh Rudi yang menenteng jaketnya.
"Udah beres, Man? Mau langsung cabut atau mau nongkrong ngopi dulu di bawah?" tanya Rudi sambil menyandarkan bahunya ke partisi meja Hermansyah.
Hermansyah mendongak, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku tas ransel. "Boleh juga. Ngopi sebentar sambil nunggu macet reda agak adem."
"Baguslah kalau mau ngopi. Asal jangan ngajak debat soal istilah bahasa lagi ya, Man. Kepala gue masih pusing mikirin 'Rabu Berkah' lu tadi siang," ledek Winda sambil terkekeh renyah, merapikan tas selempangnya.
Hermansyah tertawa lepas. "Tenang, Win. Hari ini resmi libur bahas tata bahasa. Besok udah Sabtu, waktunya mikirin liburan, bukan mikirin status WhatsApp orang."
"Nah, itu baru pemikiran yang bener!" sahut Rudi menimpali sambil menepuk meja Hermansyah dua kali. "Yaudah, yuk cabut. Jangan lupa, minggu depan kalau ada yang traktir lagi, kita tagih janjinya buat bikin status tandingan!"
Ketiganya melangkah keluar meninggalkan ruangan kantor yang perlahan sepi. Di luar gedung, angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa serta kelegaan akhir pekan. Bagi Hermansyah, perdebatan kecil hari itu bukanlah sesuatu yang perlu dibawa serius melainkan sebuah bumbu kecil yang membuat hari-hari biasa di kantor menjadi jauh lebih hidup, penuh tawa, dan berkesan.
Tamat
Terima kasih telah membaca Debat Kusir Jumat Berkah. Ini adalah cerita pendek tentang potongan kehidupan (Slice of Life) bergenre: Metropop dan Urban Fiction dengan sedikit unsur Comedy. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai
Tapi memang banyak atau masjid yang suka kasih makanan kalo hari Jumat, biasanya sehabis sholat Jum'at dikasih minuman atau cemilan kecil.
BalasHapusAku tanyakan sama pengurus nya, kenapa cuma Jumat sih, kenapa ngga hari lainnya atau tiap hari?
Katanya kalo tiap hari ngga ada dananya hihihi
Kenapa cuma Jumat? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.😂😂😂