Menunggu Respons Refa
Menunggu Respons Refa

Katanya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Menurutku, Jakarta bukan cuma tidak tidur, tapi kota ini juga mengidap sindrom kecemasan akut yang membuatnya harus berlari setiap saat. Di stasiun MRT Bundaran HI pukul delapan pagi, manusia-manusia mengalir seperti air bah yang lolos dari tanggul beton. Mereka melangkah cepat, sepatu-sepatu pantofel dan flat shoes berketukan di atas lantai marmer dengan ritme yang konstan.
Lalu, ada aku.
Aku berdiri di dekat tiang beton, mencoba mengancingkan jaket beludruku. Butuh waktu sekitar tiga detik bagi jariku untuk menyadari bahwa kancing teratas sengaja kumasukkan ke lubang kedua. Aku mematung, menatap kancing itu, lalu mulai berpikir apakah aku harus membongkar semuanya dari bawah atau membiarkannya saja sebagai tren mode baru.
"Refa! Demi Tuhan, lu lagi instal ulang Windows 11 di kepala lu, ya? Ayo cepat, keretanya udah mau jalan!"
Sebuah tarikan kencang di pergelangan tanganku memutus perdebatan batin tentang kancing baju tersebut. Itu Wanda. Sahabatku sejak zaman sekolah, yang sekarang kebetulan bekerja di gedung yang sama denganku di kawasan Sudirman. Wanda adalah definisi manusia Jakarta sejati: bicaranya punya kecepatan minimal 150 kata per menit, jarinya bisa membalas tiga grup WhatsApp sambil berjalan tanpa tersandung, dan dia tahu jalan tikus dari Palmerah ke Kuningan yang bahkan tidak ada di Google Maps.
"Hah? Oh, keretanya..." kataku pelan, membiarkan diriku diseret masuk ke dalam gerbong yang penuh sesak.
Pintu MRT menutup di belakang kami dengan bunyi yang nyaring. Aku mengembuskan napas, berpegangan pada handstrap yang berayun.
"Fa, lu tadi lihat gak sih fyp TikTok yang gue kirim jam tujuh pagi tadi?" Wanda memulai obrolan, suaranya bersaing dengan deru MRT. "Gila banget kan si selebgram itu? Masa dia selingkuh sama sepupu dari ipar tiri suaminya? Menurut lu gimana?"
Aku berkedip. Dua kali. Otakku mulai memetakan silsilah keluarga yang baru saja diucapkan Wanda. Sepupu... dari ipar... tiri... suaminya. Berarti, suami punya ibu tiri, ibu tiri punya anak, anak punya...
Kereta melaju, melewati stasiun Dukuh Atas, lalu Setiabudi Astra.
"Gila, kan?" desak Wanda lagi, menatapku penuh tuntutan keadilan sosial atas drama internet tersebut.
Saat kereta mulai mengerem di stasiun Bendungan Hilir, sinyal di kepalaku akhirnya tersambung. Aku menoleh ke Wanda dengan mata membulat. "Hah?! Serius? Kok bisa tega banget sama sepupunya sendiri?!"
Wanda menatapku datar. Kedutan kecil muncul di alis kirinya. "Refa sayang... masalah selebgram itu udah basi. Barusan, dalam jeda tiga menit tadi, gue udah ganti topik ke masalah cowok di sebelah lu yang barusan gak sengaja keinjek sepatu lu, dan lu baru ngerespons topik yang pertama?"
Aku menunduk. Di sebelah kananku, seorang pria berkemeja abu-abu sedang menatap sepatunya yang bernoda hitam dengan ekspresi masam.
"Maaf, Mas..." bisikku, super terlambat. Pria itu hanya menghela napas berat, seolah tingkat kesabarannya hari itu sudah habis bahkan sebelum jam kantor dimulai.
Wanda hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Gue kadang heran, Fa. Lu itu pinter, IPK lu pas lulus tinggi, kerjaan lu sebagai analis data selalu akurat. Tapi kenapa kalau urusan komunikasi sehari-hari, ping di otak lu bisa tembus 999 milidetik sih?"
"Aku gak lemot, Wan," belaku sambil berjalan keluar dari gerbong saat kami sampai di stasiun tujuan. "Aku cuma... menikmati proses berpikir secara mendalam."
"Mendalam gundulmu," gerutu Wanda, mempercepat langkahnya menuju eskalator. "Itu namanya loading lama, alias Lola!"
Baca juga: Anomali Tulisan Tangan Yuli
**********
Dunia kerja tidak memberikan kompromi untuk orang yang memproses informasi secara analog di era digital. Untungnya, seperti yang dikatakan Wanda, aku bekerja dengan data. Angka dan tren tidak menuntutku untuk memberikan jawaban instan yang jenaka dalam waktu satu detik. Angka-angka di layar monitor adalah teman yang baik; mereka diam, menunggu diproses, dan tidak akan protes kalau aku memandangi mereka selama sepuluh menit tanpa berkedip.
Namun, lantai empat kantor kami bukan hanya berisi komputer. Ada Surya.
Surya adalah senior di tim analis, manusia dengan tingkat keusilan di atas rata-rata yang menganggap kelambatan responsifku sebagai hiburan gratis di kala penat.
"Fa," Surya tiba-tiba muncul di kubikelku sekitar jam dua siang, membawa segelas kopi instan dan wajah yang sok serius. "Gue punya tebakan baru. Kalau lu bisa jawab dalam waktu kurang dari semenit, gue jamin lu dapet pencerahan spiritual."
Aku mengalihkan pandangan dari grafik batang di monitorku. "Apa, Mas?"
"Ayam, ayam apa yang paling besar di dunia?" tanya Surya, bersedekap dada dengan senyum penuh kemenangan yang sudah siap meledak.
Aku memiringkan kepala. Ayam paling besar. Otakku langsung berselancar ke artikel-artikel biologi yang pernah kubaca. Apakah ayam kalkun? Atau ayam jago raksasa dari ras Brahma yang beratnya bisa sampai delapan kilogram? Atau ini metafora?
"Ayam... kalkun?" jawabku ragu-ragu setelah setengah menit berlalu.
Surya tertawa renyah, memukul sekat kubikelku sampai beberapa sticky notes bergoyang. "Salah! Salah besar! Jawabannya adalah: Ayam semesta!"
Aku mematung. Ayam semesta.
Surya sudah berjalan kembali ke mejanya yang berjarak lima meter, masih tertawa-tawa sendiri.
Tiga menit kemudian, aku sedang mengetik laporan bulanan ketika kata-kata Surya mendadak terkonfigurasi ulang di kepalaku. Ayam semesta... Alam semesta! Pelesetan kata!
"BHAHAHA!"
Suara tawaku meledak di tengah keheningan ruang kantor yang hanya diisi suara ketukan kibor. Beberapa orang menoleh terkejut, termasuk Pak Bambang, kepala divisi kami yang sedang berjalan membawa tumpukan map.
Surya dari kejauhan langsung mengacungkan jempolnya sambil menahan tawa sampai mukanya merah. "Bagus, Refa! Cuma telat tiga menit! Rekor baru minggu ini!"
Aku langsung menutup mulut dengan kedua tangan, wajahku terasa panas. Mengapa bagian humorku harus melewati jalur birokrasi yang begitu panjang sebelum akhirnya diizinkan untuk diekspresikan?
"Kamu gak apa-apa, Refa?" sebuah suara lembut terdengar dari arah kiri.
Aku menoleh. Fahri berdiri di sana, memegang beberapa berkas revisi anggaran. Fahri adalah anak magang tingkat akhir di divisi keuangan yang mejanya tak jauh dari kubikelku. Berbeda dengan Surya yang gemar menjadikanku bahan eksperimen sosial, atau Wanda yang selalu gemas ingin menyuntikkan kafein langsung ke pembuluh darahku agar aku bergerak lebih cepat, Fahri selalu memperlakukanku seperti manusia normal. Sifatnya tenang, pembawaannya kalem, dan tatapan matanya selalu sabar.
"Gak apa-apa, Ri," kataku, mencoba kembali jaim. "Tadi... cuma kepikiran sesuatu yang lucu."
"Tebakan Mas Surya yang tadi, ya?" Fahri tersenyum kecil. Dia meletakkan berkas di mejaku. "Gak usah dipikirin, Fa. Mas Surya emang agak ajaib. Lagian, menurut gue, punya ritme sendiri di kota kayak gini itu kemewahan. Orang-orang di sini terlalu cepet ngambil kesimpulan sampai sering salah paham. Lu... beda. Lu bener-bener mikir sebelum ngerespons."
Aku menatap Fahri. Kata-katanya barusan terdengar sangat manis. Sangat puitis. Ritme sendiri... kemewahan...
"Terima kasih, Ri," kataku pelan.
"Sama-sama. Oh ya, nanti malam ikut nongkrong kan di Blok M sama Wanda dan Mas Surya? Gue juga ikut."
"Iya, ikut kok."
Fahri mengangguk, lalu berjalan kembali ke ruangannya.
Baca juga: Titik Koma Di Fajar Pertama
Aku kembali menatap layar komputer. Menit pertama berlalu. Menit kedua berlalu. Pada menit ketiga, jantungku tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat. Tunggu dulu. Fahri barusan memujiku? Dia bilang aku 'beda' dalam artian yang positif? Dan dia menatap mataku lama sekali tadi?
Aku menoleh ke arah ruangan keuangan, tapi Fahri sudah tidak ada di sana. "Ya ampun, Refa..." bisikku pada diri sendiri, merutuki otakku yang selalu membutuhkan waktu inkubasi terlalu lama untuk menyadari sebuah lampu hijau romansa.
**********
Malam di Jakarta Selatan selalu punya atmosfer yang berbeda. Selepas magrib, daerah Blok M berubah menjadi peleburan antara pekerja kantoran yang stres, anak muda berkostum skena, dan aroma sate padang serta kopi yang menguar di udara.
Kami berempat, aku, Wanda, Surya, dan Fahri duduk di sebuah kedai kopi semi-terbuka di dalam kawasan Blok M Square. Suara bising dari jalanan, musik indie yang diputar dari pengeras suara kedai, dan obrolan orang-orang di sekitar kami menciptakan kebisingan latar belakang yang konstan.
Wanda sedang menggebu-gebu menceritakan tentang atasannya yang menuntut revisi pekerjaan di hari Jumat jam lima sore. "Gila gak menurut lu, Ri? Itu namanya eksploitasi berkedok profesionalisme! Gue udah rapi, udah pakai lipstik, udah siap healing, malah disuruh nyari data pembanding!"
Fahri mengangguk-angguk sopan, mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali menyeruput es cokelatnya. Sementara Surya sibuk menyusun menara dari kulit kacang di atas meja.
"Kalau lu gimana, Fa? Lu bakal terima aja atau protes kalau digituin?" Surya tiba-tiba melempar umpan pertanyaan kepadaku.
Aku yang sedang mengaduk es kopi susuku langsung menghentikan gerakan tangan. Jika bos meminta revisi di hari Jumat jam lima sore... Hak pekerja... Kewajiban... Regulasi lembur...
Wanda menghela napas panjang. Dia langsung mengambil alih sebelum aku sempat mengeluarkan suku kata pertama. "Jangan ditanya sekarang, Sur. Nanti pas kita udah di kasir mau bayar, baru dia jawab."
"Hahaha, bener juga," sahut Surya jahil. "Sinyal di daerah Blok M emang agak jelek buat pengguna kartu Refa Cellular."
Aku hanya bisa cemberut, lalu meminum kopiku. Namun, di sudut mata, aku menyadari Fahri sedang memperhatikanku. Dia tidak ikut tertawa. Senyumnya tipis, tipe senyum yang menyiratkan rasa maklum yang hangat.
"Gak apa-apa, Fa. Gak usah dijawab. Nikmatin aja kopinya," kata Fahri lembut.
Kemudian, keadaan menjadi agak sibuk ketika Wanda pamit ke toilet dan Surya beranjak untuk memesan camilan tambahan di kaunter depan. Di meja itu, tiba-tiba hanya tersisa aku dan Fahri.
Suara bising di sekitar seolah mendadak diredam oleh dinding tak kasatmata. Fahri memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua lengannya di atas meja kayu yang agak bopeng.
"Fa," panggilnya.
"Ya?"
"Minggu depan masa magang gue di kantor kan udah selesai."
"Oh... iya ya. Cepet banget," kataku. Otakku mencatat informasi itu: Fahri selesai magang. Berarti dia gak akan ada di kantor lagi senin depan. Kesedihan kecil mulai menyusup di hatiku, tapi respons wajahku masih datar-datar saja.
"Gue... sebenarnya ngerasa beruntung banget bisa magang di divisi kita," lanjut Fahri. Pandangannya lurus mengunci mataku. "Bukan cuma karena pengalamannya, tapi karena gue bisa kenal sama lu. Gue tahu Jakarta ini bikin capek, tapi setiap kali gue ngerasa pusing sama kerjaan, ngelihat lu yang selalu tenang meskipun gue tahu lu lagi loading itu bikin gue ikut ngerasa tenang."
Fahri meraih sekotak tisu di tengah meja. Dia mengambil selembar, lalu menggunakan pulpen hitam dari saku kemejanya untuk menuliskan sesuatu di sana. Dia menggeser tisu itu ke hadapanku. Di atas kertas tipis itu, tertera tulisan: Sabtu ini, jalan yuk? Gue mau denger lu mikir seharian.
Baca juga: Batas Yang Tak Terlihat
"Gak usah dijawab sekarang, Fa," kata Fahri, seolah dia sudah sangat hafal dengan protokol sistem operasional di kepalaku. "Lu simpen aja dulu tisunya."
Tepat saat itu, Wanda kembali dari toilet sambil mengomandani kepulangan kami karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Surya juga datang membawa kantong kresek berisi pisang goreng yang urung dimakan di tempat.
"Yuk, balik. Besok Sabtu tapi gue ada janji senam pagi sama nyokap," ajak Wanda gencar.
Aku buru-buru memasukkan tisu dari Fahri ke dalam tas kerjaku. Pikiranku campur aduk, gumpalan informasi baru saja masuk ke dalam sistem pemrosesan dataku, menimbulkan antrean panjang di jalur memori short-term.
Perjalanan pulang malam itu terasa seperti mimpi yang bergerak dalam kecepatan slow-motion bagiku, meskipun secara fisik kami bergerak sangat cepat menggunakan moda transportasi publik. Kami berjalan beriringan memasuki stasiun MRT Blok M BCA.
Wanda dan Surya berjalan di depan, masih berdebat tentang rute tercepat menuju rumah kos masing-masing. Aku dan Fahri berjalan di belakang mereka dalam keheningan yang nyaman.
Kami menempelkan kartu di gerbang masuk, lalu naik ke peron atas. Angin malam Jakarta yang agak hangat berembus, menerbangkan beberapa helai rambutku. Kereta ke arah Bundaran HI tiba. Kami berempat masuk ke dalam gerbong yang untungnya tidak terlalu padat dibandingkan pagi tadi.
Wanda dan Surya langsung mendapatkan tempat duduk dan melanjutkan obrolan mereka tentang investasi saham yang sedang anjlok. Aku dan Fahri memilih berdiri di dekat pintu kaca, berpegangan pada tiang besi yang sama.
Kereta mulai berjalan. Blok M... ASEAN... Senayan...
Setiap stasiun terlampaui, dan di dalam kepalaku, kata-kata Fahri di kedai kopi tadi baru mulai didekonstruksi satu per satu secara mendalam.
Pertama: Fahri merasa beruntung mengenalku.
Kedua: Dia merasa tenang bersamaku.
Ketiga: Dia mengajakku jalan hari Sabtu ini.
Tunggu, hari Sabtu ini? Itu kan... BESOK LUSA?!
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang seperti dikejar antek-antek penagih utang. Kesadaran penuh akhirnya menghantam otakku dengan kekuatan penuh 5G, menghancurkan segala hambatan latency yang biasanya menahanku. Fahri baru saja menembakku secara tidak langsung! Dia mengajakku berkencan! Bukan sebagai teman sekantor, tapi sebagai seorang pria kepada seorang wanita!
Aku menoleh ke arah Fahri dengan mata melebar, mulutku agak terbuka karena terkejut. Aku siap memberikan jawaban yang paling tegas, paling cepat, dan paling antusias dalam hidupku.
"Fahri! Aku..."
Terdengar nada peringatan pintu MRT akan terbuka. Suara pengumuman otomatis bergema di dalam gerbong: "Stasiun Istora Mandiri. Istora Mandiri Station."
Fahri tersenyum, lalu menepuk pundakku pelan. "Gue duluan ya, Fa. Kos gue dekat sini. Duluan ya, Mas Sur, Wan!" pamit Fahri kepada yang lain.
Wanda dan Surya melambaikan tangan dengan malas karena mengantuk. Fahri melangkah keluar dari gerbong. Dia berbalik di peron, menatapku melalui kaca pintu MRT yang mulai bergeser menutup. Dia memberikan isyarat tangan berbentuk telepon di dekat telinganya, mengingatkanku tentang tisu di dalam tas.
Pintu tertutup rapat. Kereta kembali melaju cepat menuju stasiun Bendungan Hilir.
Aku mematung di tempatku berdiri, tangan masih menggantung di udara. Kata-kataku yang sudah siap meluncur terpaksa tertelan kembali ke dalam tenggorokan.
Baca juga: Aroma Yang Dipilih Hutan
"Telat lagi ya, Fa?" tanya Surya dari tempat duduknya, bahkan tanpa perlu mendongak dari layar ponselnya.
"Tiga lampu merah, Mas. Kali ini dia telat tiga stasiun," sahut Wanda sambil menguap lebar. "Gue taruhan, dia baru mau teriak 'Mau!' pas kita udah nyampe stasiun akhir di Bundaran HI."
Aku tidak menghiraukan ledekan mereka berdua. Aku membuka tas kerjaku dengan tangan sedikit gemetar, meraba-raba ke bagian dalam sampai jariku menemukan lembaran tisu dari Fahri. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati, takut kertas tipis itu akan robek.
Aku menatap tulisan tangan Fahri yang rapi di bawah lampu gerbong MRT yang terang.
Sesampainya di kamar kosku di daerah Kebon Kacang, suasana sudah sangat sepi. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit. Jakarta di luar jendelaku masih bising dengan suara kendaraan, tapi di kamar ini, hanya ada aku dan pikiranku.
Aku duduk di tepi kasur, masih mengenakan kemeja kantor yang agak kusut. Di depanku, ponsel pintar tergeletak di atas seprai abu-abu.
Biasanya, aku benci fakta bahwa otakkku lambat. Aku benci fakta bahwa aku selalu menjadi orang terakhir yang tertawa saat berkumpul, atau orang yang selalu dicap planga-plongo oleh orang-orang baru yang belum mengenalku. Di kota yang menuntut segalanya serba instan ini, menjadi lambat sering kali dianggap sebagai sebuah kecacatan sosial.
Namun, mengingat cara Fahri menatapku tadi, mengingat bagaimana dia berkata bahwa kelambatanku adalah sebuah "kemewahan" dan memberikan ketenangan... rasanya ada sesuatu yang hangat yang mekar di dalam dadaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak apa-apa menjadi seorang Refa yang loading-nya lama. Karena di luar sana, di antara jutaan manusia Jakarta yang terburu-buru, ada satu orang yang bersedia melambatkan langkahnya demi menyamakan ritme denganku.
Aku mengambil ponselku. Aku membuka aplikasi pesan instan, membuka ruang obrolan baru dan mengetik sebuah pesan:
Halo Ri, Maaf ya baru bales sekarang, sinyal di otak aku baru dapet koneksi 5G setelah nyampe kosan.
Tentang hari Sabtu... Aku mau. Aku mau jalan sama kamu. Dan tenang aja, hari Sabtu nanti aku bakal berusaha buat gak telat denger cerita kamu.
Aku menatap tombol kirim hijau di layar. Jariku menggantung di atasnya selama lima detik.
Apakah ini terlalu malam untuk mengirim pesan? Apakah kalimatnya terlalu aneh? Apakah aku harus merevisinya lagi?
"Ah, persetan dengan loading," bisikku pada diri sendiri.
Aku menekan tombol kirim. Tring. Pesan terkirim. Dua centang abu-abu langsung berubah menjadi dua centang biru hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Jantungku berdebar menunggu balasan.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Aku menghela napas. Tuh kan, gantian dia yang lola, pikirku mulai cemas.
Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat. Bukan sebuah pesan teks, melainkan sebuah panggilan masuk. Nama yang tertera di layar adalah Fahri.
Aku menarik napas dalam-dalam, menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telingaku. "Halo, Ri."
"Halo, Fa," suara Fahri terdengar dari seberang sana, diiringi suara sayup-sayup kipas angin di kamarnya. Suaranya terdengar lega, dan ada tawa kecil yang tertahan. "Gue sengaja langsung telepon, soalnya kalau lewat chat, gue takut harus nunggu sampai hari Senin buat dapet balesan lu selanjutnya."
Aku tertegun selama tiga detik, memproses candaannya, sebelum akhirnya tawa renyahku pecah memenuhi keheningan kamar kos.
"Ih, parah banget! Gak se-lama itu juga kali, Ri!" protesku sambil tersenyum lebar, menatap lampu-lampu kota Jakarta di balik jendela yang malam ini, entah kenapa, terlihat jauh lebih indah dan tidak terlalu mengintimidasi lagi.
Di kota yang bergerak terlalu cepat ini, aku akhirnya menemukan pemberhentianku. Dan bagiku, keterlambatan itu tidak pernah menjadi masalah, selama tujuan akhirnya adalah orang yang tepat.
Tamat
Terima kasih telah membaca Menunggu Respons Refa. Ini adalah cerita pendek bergenre: Cerita Pendek, Komedi Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Slice of Life, Urban Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Kehangatan Yang Terlarang
Komentar
Posting Komentar