Sumpah Serapah Berbungkus Berkah
Sumpah Serapah Berbungkus Berkah

Dinding batako tanpa plester itu setebal sepuluh sentimeter, tetapi bagi Deni dan Nisa, dinding itu tak lebih dari selembar kertas minyak yang basah. Segala hal dari rumah sebelah selalu merembes masuk tanpa permisi. Suara minyak jelantah yang berdesis saat bertemu potongan bawang, lengkingan gayung plastik yang beradu dengan dasar bak mandi yang kosong, hingga tangis anak-anak.
Malam itu, jam dinding di ruang tamu Deni menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Deni duduk di atas kursi plastik hijau. Jemarinya yang kasar dan bernoda oli dari pekerjaannya sebagai montir lepas di bengkel pinggir jalan sibuk mengelus layar ponselnya. Dia sedang menghitung sisa saldo di dompet digitalnya. Tiga puluh dua ribu rupiah. Cukup untuk bensin motor dua hari dan beberapa batang rokok eceran.
Di sudut ruangan yang merangkap sebagai dapur, Nisa sedang menyetrika pakaian, tangannya bergerak lincah melipat dan menumpuknya.
Oeeekkk... Oeeekkk...
Suara lengkingan itu menembus dinding batako lagi. Itu suara si bungsu, anak ketiga Yadi dan Lina yang baru berusia empat bulan. Disusul kemudian oleh suara berat Yadi yang mengomando anak pertamanya untuk diam, dan suara Lina yang mengomel tentang harga susu formula yang naik lagi tiga ribu rupiah per kaleng.
Deni tidak menoleh, tetapi jempolnya berhenti menggulir layar ponselnya. Di dalam kepalanya, suara tangis itu seperti sebuah alarm yang mengingatkannya pada malam-malam penuh hitungan matematika yang melelahkan. Dia tahu, Yadi yang bekerja sebagai buruh angkut pasar sering kali mengeluh pusing memikirkan kontrakan. Tapi Deni juga tahu, setiap kali Yadi duduk di pos ronda bersama Fajar, Yadi selalu menepuk pundaknya sambil berkata, "Sengsara sih, Den, hidup pas-pasan punya buntut tiga. Tapi ya... kalau sampe rumah liat mereka tidur, rasanya hidup kita jadi genap. Nggak ganjil kayak bujangan lagi."
Kata ganjil itu selalu tersangkut di telinga Deni seperti duri ikan.
Sementara itu, beberapa langkah di dekat kompor, gerakan tangan Nisa melambat. Matanya menatap lurus ke arah batako abu-abu. Di balik usianya yang kini tiga puluh satu tahun, rahimnya masih menyimpan sebuah ruang kosong yang telah didoakan, diberi ramuan herbal, hingga diperiksakan ke dokter kandungan selama delapan tahun pernikahannya dengan Deni. Setiap kali suara anak Lina menangis, dada Nisa berdenyut. Bukan karena dia benci anak-anak, melainkan karena suara itu adalah wujud nyata dari bisikan para perempuan di tukang sayur setiap pagi.
"Si Nisa itu, jamunya kurang kencang kali, ya."
"Ah, kasihan Deni, kerja banting tulang tapi rumahnya sepi-sepi aja. Kayak kuburan."
Nisa menghela napas, sangat pelan, berharap Deni tidak mendengarnya. Namun Deni mendengarnya. Deni selalu mendengar setiap helaan napas istrinya yang berat. Dia tahu Nisa sedang terluka, dan dia merasa gagal sebagai laki-laki karena tidak bisa membelikan rumah dengan dinding beton yang tebal, yang bisa menyaring suara-suara penghakiman dari luar.
"Mau kopi, Kang?" suara Nisa memecah keheningan, mencoba mengusir roh tangisan bayi sebelah rumah.
Deni mendongak, memaksakan senyum terbaiknya. "Boleh, Nis. Gula arennya masih ada?"
"Masih. Sisa sedikit lagi."
Saat Nisa berbalik menyalakan kompor gas, pikiran Deni melayang ke percakapannya tadi siang di bengkel bersama Fajar.
Fajar, laki-laki berumur tiga puluh tahun yang memilih untuk tidak peduli pada aturan dunia. Dia belum menikah, kerjanya serabutan, hari ini jadi calo motor bekas, besok jadi kenek truk dan mulutnya tidak pernah disaring.
Siang tadi, saat Deni sedang mengencangkan baut roda truk, Fajar datang membawa sebungkus es teh manis.
"Si Yadi tadi pagi ngutang lagi ke warung depan," kata Fajar sambil menyedot es tehnya hingga berbunyi sreeet. "Beli pampers katanya. Gila ya, anak tiga, gaji harian kagak menentu. Tapi heran gue, mukanya girang-girang aja."
Deni hanya bergumam, tangannya sibuk dengan kunci pas. "Ya namanya anak, Jar. Rezeki."
Baca juga: Cinta Dalam Bayang-Bayang Keraguan
Fajar tertawa, tawa yang mengejek. "Rezeki kalau ada duitnya, Den! Kalau kagak ada, ya jadi beban. Tapi ya... mending si Yadi sih kalau menurut orang-orang sini. Biar miskin, dia terbukti ‘laki’. Rumahnya rame. Nah, lu... duit lu agak mendingan dari Yadi, rumah lu tenang, tapi... ya itu, kayak ada yang kurang. Dua orang doang di rumah itu sepi banget, Den. Kayak ganjil gitu, lu berdua mulu kayak sandal jepit kagak ada pasangannya, pincang kalau jalan. Apa kagak jenuh?"
Deni menghentikan gerakan kuncinya. Matanya menatap Fajar tajam. Ada rasa hangat yang mendadak naik ke lehernya. "Maksud lu apa, Jar?"
Fajar yang menyadari perubahan raut wajah Deni langsung mengangkat kedua tangan, tertawa canggung. "Yaelah, Den, sensi amat kayak perawan. Gue kan cuma ngomongin apa yang diomongin orang-orang di pos ronda. Kagak ada maksud apa-apa. Lagian, lu kan udah nikah delapan tahun. Apa kagak kesepian?"
Kesepian. Kata itu mengasapi kepala Deni sepanjang jalan pulang. Apakah dia kesepian? Tidak. Dia mencintai Nisa. Dia suka melihat Nisa menyambutnya di pintu, menyendokkan nasi, dan mendengarkan ceritanya tentang mesin-mesin rusak. Bagi Deni, hidup berdua dengan Nisa sudah cukup. Tetapi dunia di luar sana, dunia yang diwakili oleh Fajar, Yadi, dan para tetangga memiliki kalkulatornya sendiri. Di dunia mereka, satu ditambah satu tidak sama dengan dua. Satu ditambah satu harus menghasilkan tiga, baru hitungannya dianggap genap dan sah.
Kembali ke ruang tamu, Nisa meletakkan segelas kopi hitam dengan aroma gula aren yang manis di atas meja tripleks. Dia ikut duduk di tikar pandan di bawah kursi Deni. Kepalanya bersandar pada lutut sang suami.
Deni mengelus rambut hitam Nisa. "Tadi Lina ke sini lagi?" tanya Deni hati-hati.
Nisa terdiam sejenak. Jemarinya memainkan ujung dasternya. "Iya. Tadi siang. Mau pinjam uang lima puluh ribu buat nebus obat demam si bungsu."
"Kamu kasih?"
"Ada uang sisa belanja kemarin, Kang. Aku kasih. Kasihan, si Lina sampai nangis-nangis. Katanya Yadi belum dapat borongan angkut hari ini." Nisa menjeda kalimatnya, matanya menatap kosong ke sudut lantai. "Terus... sebelum pulang, Lina bilang sesuatu."
Deni menahan napas. Dia sudah bisa menebak arahnya. "Bilang apa?"
"Dia bilang... ‘Nis, makanya cepat-cepat punya anak. Biar ada yang doain, biar rumahnya berkah. Lihat aku, Nis. Biar susah, tapi kalau anak-anak ngumpul, rasanya pusingnya hilang. Kayak ngerasa lengkap aja jadi perempuan."
Nisa menceritakan itu tanpa nada marah, hanya ada getaran kepasrahan yang teramat dalam di suaranya. Namun bagi Deni, kata-kata Lina itu terdengar seperti sebuah kesombongan yang dibungkus dengan kemiskinan. Orang-orang miskin di sekitar mereka tidak punya harta untuk dipamerkan, maka mereka memamerkan jumlah anak sebagai simbol kekayaan baru, sebuah validasi bahwa hidup mereka lebih normal dan lebih diberkati ketimbang pasangan yang rumahnya sepi.
"Jangan didengar, Nis," bisik Deni, meskipun dia tahu kata-katanya sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka Nisa.
"Aku nggak marah sama Lina, Kang," kata Nisa lembut, mendongak menatap suaminya. "Aku cuma mikir... apa iya, di mata orang-orang, kita ini dianggap cacat? Apa kita ini dianggap tidak genap?"
Deni tidak menjawab. Dia merapatkan pelukannya pada bahu Nisa. Di dinding sebelah, tangis bayi Yadi akhirnya mereda, digantikan oleh suara tawa lirih Yadi dan Lina yang sedang bercanda di atas kasur lantai mereka.
**********
Dua hari kemudian, siang hari terasa jauh lebih terik hingga udara di dalam ruangan terasa pengap. Di pos ronda dekat pohon talas, Yadi, Fajar, dan Deni sedang berkumpul. Deni kebetulan sedang libur karena bengkel tempatnya bekerja sedang sepi orderan.
Yadi duduk sambil mengipasi badannya dengan kardus bekas, wajahnya kusut.
"Puyeng gue, Den, Jar," keluh Yadi sambil melempar puntung rokok yang sudah membakar busanya. "Si Lina minta duit lagi buat beli susu formula yang bebas laktosa. Si Bungsu mencret-mencret mulu. Mana anak yang pertama besok mulai masuk sekolah. Kepala gue rasanya mau pecah."
Baca juga: Kita Dalam Sebuah Cerita
Fajar, yang sedang asyik memainkan gitar bernada sumbang, tertawa renyah. "Makanya, Yad, kalau tahu puyeng, jangan nambah buntut mulu. Lu kayak kucing garong aja, subur amat."
"Sialan lu, Jar!" Yadi melempar sandal jepitnya ke arah Fajar, meski ekspresinya tidak benar-benar marah. Ada semacam kebanggaan terselubung dalam keluhannya. Yadi kemudian menoleh ke arah Deni yang sejak tadi hanya diam, sibuk membersihkan kuku-kukunya yang hitam dengan sebilah lidi. "Tapi ya, Den... sehancur-hancurnya gue di pasar, kalau pas pulang si bungsu ketawa, terus anak yang gede langsung meluk, ilang semua capek gue. Lu musti ngerasain sendiri, Den. Biar hidup lu kagak lempeng-lempeng amat. Lelaki itu kalau belum punya anak, belum ngerasain puyengnya nyari duit buat darah daging sendiri, rasanya belum jadi lelaki penuh."
Deni menghentikan aktivitas lidinya. Kalimat Yadi kali ini tidak sekadar merembes lewat dinding batako rumah, tapi langsung menghantam ulu hatinya di depan umum.
"Setiap orang punya jalannya masing-masing, Yad," sahut Deni, suaranya rendah dan datar, berusaha menahan gemuruh di dadanya.
Fajar yang melihat situasi mulai menegang, justru menambahi bumbu. "Iya, Yad, jangan dibanding-bandingin. Si Deni mah enak, duitnya utuh buat berdua doang. Bisa pacaran terus tiap malam, kagak keganggu suara tangisan bocah ngompol. Iya kan, Den? Tapi ya itu... kalau mati besok, yang doain siapa, Den? Hahaha!"
Tawa Fajar pecah sendirian. Yadi tidak ikut tertawa; dia hanya menatap Deni. Deni bangkit dari duduknya tanpa pamit, menghentakkan kakinya, dan berjalan cepat menuju rumah.
Sementara itu, jauh sebelum Deni melangkah pulang dengan dada bergemuruh, ketegangan yang sama sebenarnya sudah mencengkeram rumah mereka dalam bentuk yang berbeda. Siang itu, Lina datang bertamu. Setelah berbasa-basi meminjam parutan kelapa, pandangan Lina tertuju pada semangkuk bubur kacang hijau di meja, dan obrolan mereka pun segera bergeser ke ranah yang sensitif.
"Eh, Nis, kamu udah coba berobat ke Abah pemijat, belum?" tanya Lina sambil menyuap bubur. "Itu lho, yang katanya bisa 'membetulkan' posisi peranakan. Si Neneng yang sepuluh tahun kosong, setelah dipijat di sana tiga kali, langsung isi."
Nisa yang sedang mencuci piring memunggungi Lina. Jemarinya meremas spon pencuci hingga busanya meluap. "Sudah pernah, Lin. Dua tahun lalu. Kata Abahnya nggak apa-apa."
"Masa sih? Atau jangan-jangan Kang Deni yang... kamu tahu sendiri kan, laki-laki kalau sering kerja di bengkel, kena panas mesin, katanya spermanya bisa encer," cetus Lina tanpa beban, menganggap gosip medis yang didengarnya di TV sebagai kebenaran mutlak.
Piring di tangan Nisa hampir saja lolos dari genggamannya. Kalimat Lina terasa sangat lancang. Mereka bersahabat, mereka bertetangga, tapi batas antara empati dan penghinaan sangatlah kabur.
"Kami baik-baik saja, Lin. Mungkin memang belum rezekinya," jawab Nisa, suaranya bergetar ditahan.
"Ya jangan pasrah doang, Nis. Usia kita udah tiga puluh lewat. Perempuan itu kalau udah tiga puluh lima, makin susah. Kasihan Kang Deni, dia anak tunggal kan? Masa keluarganya berhenti di dia doang. Apa kamu nggak takut kalau nanti Kang Deni..." Lina menggantung kalimatnya, sengaja memberi ruang bagi ketakutan terbesar setiap istri: kehadiran wanita lain yang bisa memberikan apa yang tidak bisa dia berikan.
Tepat setelah kalimat itu menggantung di udara, pintu depan terbuka dengan kasar. Deni melangkah masuk dengan wajah memerah. Lina yang melihat kedatangan Deni segera berdiri, tersenyum canggung.
"Eh, Kang Deni udah pulang. Ya udah, Nis, aku balik dulu ya, mau mandiin anak-anak. Makasih parutannya," ujar Lina terburu-buru, merasakan atmosfer yang mendadak membeku.
Begitu Lina keluar dan pintu ditutup, keheningan yang pekat kembali menguasai rumah.
Baca juga: Sebelum Ia Menyadari
Deni berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu. Nisa membalikkan badan, menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pertahanan yang mereka bangun dengan tawa palsu dan pelukan di malam hari, hari ini runtuh total oleh serangan dari luar yang datang bertubi-tubi.
"Tadi Lina ngomong apa sama kamu?" tanya Deni, suaranya bergetar menahan amarah yang salah sasaran.
"Nggak ada, Kang. Cuma obrolan biasa," jawab Nisa, mencoba meredam bom waktu.
"Biasa apa?! Mereka itu semua sama, Nis! Yadi, Fajar, Lina! Mereka pikir kita ini tontonan? Mereka pikir hidup kita ini pincang?" Deni menendang kursi plastik hijau hingga terjungkir. Prang! Kursi itu menghantam lantai semen.
Nisa tersentak. Ini pertama kalinya Deni membentak dan merusak barang di depan matanya selama delapan tahun pernikahan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah.
"Kamu pikir aku nggak sakit hati, Kang?" seru Nisa, suaranya meninggi, melepaskan seluruh beban yang menyumbat dadanya bertahun-tahun. "Setiap pagi aku harus pasang kuping dengerin omongan orang di tukang sayur! Setiap malam aku dengerin anak sebelah nangis sambil berdoa biar rahimku ini nggak dibilang tanah kering! Tapi kenapa kamu malah marah sama aku?"
"Aku nggak marah sama kamu, Nisa!" Deni maju, mencengkeram kedua bahu istrinya. Matanya merah. "Aku marah sama dunia ini! Kenapa mereka yang nentuin kita bahagia atau nggak? Kenapa rumah ini harus terasa ganjil hanya karena kita cuma berdua?!"
Nisa menggelengkan kepala, air matanya membasahi kaos Deni. "Tapi kenyataannya kita emang ganjil, Kang... Kita ganjil di mata mereka. Dan lama-lama... aku juga merasa kita ganjil di mata kita sendiri."
Kalimat terakhir Nisa memukul Deni lebih keras daripada kata-kata Yadi maupun Fajar. Ketika keputusasaan dari luar akhirnya berhasil meracuni pikiran mereka sendiri, di situlah keganjilan yang sesungguhnya dimulai.
**********
Pagi setelah badai selalu membawa jenis kecanggungan yang aneh. Sisa-sisa amarah semalam masih menggantung di udara, seperti debu yang belum sempat disapu. Kursi plastik hijau yang terjungkir sudah ditegakkan kembali oleh Deni sebelum subuh, posisinya persis seperti semula, namun retakan kecil di dekat sandarannya tidak bisa disembunyikan.
Nisa berdiri di depan kompor, memotong tempe dengan gerakan lambat. Matanya sembap, tetapi wajahnya sudah jauh lebih tenang. Di dekat meja, Deni sedang mengancingkan kemejanya. Tidak ada teriakan lagi, tidak ada air mata, yang ada hanyalah keheningan yang melelahkan.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu depan memecah kecanggungan itu. Deni dan Nisa saling berpandangan. Ketukan itu terdengar terburu-buru dan tidak sabar.
Deni melangkah ke depan dan membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Yadi. Wajah laki-laki itu pucat pasi, napasnya memburu, dan bajunya tampak kusut masai seolah dia tidak tidur semalaman.
"Den... Den, tolongin gue, Den," suara Yadi bergetar, matanya memohon.
Deni mengernyitkan dahi, amarah semalam mendadak luruh melihat kondisi tetangganya. "Ada apa, Yad? Tenang dulu."
"Si bungsu, Den... badannya panas tinggi dari semalam. Tadi subuh mendadak kejang-kejang. Lina udah nangis histeris di dalam. Gue... gue nggak punya duit buat bawa ke klinik depan, Den. Tolongin gue, Den... pinjam duit kalau lu ada simpanan..." Yadi hampir saja berlutut di teras jika Deni tidak segera menahan lengannya.
Dari dalam rumah, Nisa yang mendengar percakapan itu langsung berlari keluar. Mendengar kata "kejang", naluri keibuannya yang terpendam mendadak bangkit. Tanpa berpikir panjang, Nisa langsung masuk lagi ke kamar, mengambil dompet kain rajutnya.
"Ini, Yad! Bawa ini!" Nisa menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang tersisa ke tangan Yadi.
Deni tidak memprotes tindakan istrinya. Dia langsung menyambar kunci motornya yang tergantung di balik pintu. "Gue yang anter, Yad. Lu gendong si bungsu, kita bawa ke rumah sakit daerah sekarang. Jangan ke klinik kecil, biar langsung ditanganin!"
Dalam waktu lima menit, gang sempit itu riuh. Fajar, yang kebetulan baru pulang dari pasar mengendarai pikap sewaan untuk angkutan sayur, melihat kegaduhan itu dari ujung jalan. Mengetahui situasi darurat tersebut, Fajar langsung menghentikan mobilnya di depan rumah Yadi.
Baca juga: Pada Akhirnya, Akankah Luka Berakhir?
"Naik pikap gue aja, Den! Lebih cepat, Lina bisa ikut mangku bayinya di dalam biar nggak kena angin!" teriak Fajar dari kaca jendela.
Deni membantu Yadi merangsek masuk ke dalam kabin pikap. Lina menangis meraung-raung sambil mendekap bayinya yang kaku. Fajar langsung menginjak gas dalam-dalam, membuat ban mobil berdecit keras membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Deni dengan motornya, menjadi pembuka jalan di tengah kemacetan kota.
Sore harinya, suasana di rumah sakit sudah jauh lebih tenang. Dokter mengatakan si bungsu terlambat dibawa sebentar saja bisa berakibat fatal, namun berkat kecepatan penanganan, kondisinya kini sudah stabil setelah diberi obat penurun panas dosis tinggi lewat cairan infus.
Yadi duduk di bangku koridor rumah sakit, menyandarkan kepalanya ke dinding marmer yang dingin. Di sampingnya, Deni menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya dari kantin.
Yadi menerima botol itu, memutarnya dengan tangan gemetar, lalu menoleh ke arah Deni. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya yang lelah.
"Den..." suara Yadi serak. "Gue minta maaf soal omongan gue kemarin-kemarin. Gue... gue ngerasa paling hebat karena punya anak banyak, ngerasa hidup gue paling sempurna. Tapi pas liat anak gue kejang tadi pagi, dan gue kagak punya satu sen pun buat nyelametin dia... rasanya gue kayak bajingan yang nggak berguna, Den."
Yadi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang. "Kalau tadi pagi nggak ada lu, nggak ada Nisa, nggak ada Fajar... anak gue mungkin udah nggak ada. Ternyata... hidup gue yang katanya genap ini, rapuh banget kalau berdiri sendiri."
Deni menatap lurus ke depan, ke arah pintu bangsal di mana Lina dan Nisa sedang bergantian menjaga si bayi di dalam. Melalui kaca kecil, Deni bisa melihat Nisa sedang mengelus kaki kecil si bungsu yang dipasang selang infus dengan tatapan penuh kasih sayang, tatapan seorang ibu sejati, meski tanpa anak dari rahimnya sendiri.
Deni menepuk pelan pundak Yadi."Kagak ada yang berdiri sendiri di gang kita, Yad," kata Deni lembut. "Lu mikir punya anak banyak itu otomatis lengkap. Tapi pas satu pincang, lu goyah juga, kan? Nah, gue sama Nisa emang cuma berdua, keliatan ganjil. Tapi karena kita cuma berdua, fondasi kita kuat buat jadi sandaran pas lu lagi roboh kayak gini"
Di ujung koridor, Fajar berjalan mendekat sambil membawa sebungkus roti dan kopi instan. Wajah selengeannya kembali, tapi kali ini ada ketulusan di matanya. "Gimana? Udah kelar dramanya? Tuh, si Nisa di dalam udah kayak emaknya sendiri, telaten banget jagainnya. Lu berdua kagak mau makan? Ntar malah lu berdua yang pingsan."
Deni tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. Beban berat yang semalam menyumbat dadanya kini lenyap sepenuhnya.
Malam harinya, Deni dan Nisa berjalan kaki pulang dari halte angkot menuju rumah mereka. Gang sudah sepi, hanya ada lampu jalanan yang temaram.
Saat melangkah masuk ke dalam rumah mereka, suasananya masih sama: sunyi, tanpa mainan yang berserakan, tanpa tangis bayi. Namun, rasa sunyi itu tidak lagi terasa mengancam. Dinding batako di sebelah rumah mereka juga kosong malam ini, karena Yadi dan Lina masih harus menginap di rumah sakit.
Nisa duduk di tikar, melepaskan lelahnya. Deni ikut duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangan istrinya erat-erat.
"Nis," panggil Deni.
"Iya, Kang?"
"Kamu masih ngerasa kita ganjil?"
Nisa menatap mata Deni dalam-dalam. Di dalam benaknya, dia mengingat kembali semua bisikan orang, semua komentar Lina, dan semua ketakutannya selama ini. Namun dia juga mengingat bagaimana tangan mereka berdua tadi pagi bergerak kompak, menjadi penyelamat bagi kehidupan di sebelah rumah mereka.
Nisa tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang pernah Deni lihat dalam lima tahun ini. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Deni.
"Nggak, Kang," bisik Nisa lembut. "Dunia luar boleh punya hitungannya sendiri. Tapi di dalam rumah ini, selama ada Kang Deni dan ada aku yang saling menjaga, hitungan kita udah pas. Dua... dan kita sudah sangat genap."
Di luar, angin malam berembus pelan, melewati dinding-dinding batako yang tak lagi memisahkan, melainkan menyatukan mereka semua dalam sebuah rumus kehidupan yang baru: bahwa kesempurnaan sebuah keluarga tidak pernah dihitung dari jumlah kepala, melainkan dari seberapa besar ruang di hati mereka untuk saling melengkapi.
Tamat
Terima kasih telah membaca Sumpah Serapah Berbungkus Berkah. Ini adalah cerita pendek bergenre: Pernikahan, Slice of Life, dan Urban Fiction. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai
Komentar
Posting Komentar